Langsung ke konten utama

Salah Paham Memahami Gaya Bahasa Al Quran

Beberapa dekade lalu di negeri Sudan, terdapat seorang tokoh Islam bernama Mahmoud Muhammad Taha yang mengeluarkan pendapat yang kontroversial. 

Mayoritas muslim sudah tahu bahwa Al Quran biasanya dibagi menjadi ayat Makkiyah dan Madaniyah. Dan jika ada perbedaan antara ayat Makkiyah dengan Madaniyah, maka ayat yang terakhirlah yang berlaku, karena prinsip muslim pada umumnya ayat yang turun belakangan menasakh ayat yang turun lebih awal. 

Nah, berbeda dengan pendapat kaum Muslim pada umumnya, Mahmoud Muhammad Taha ini justru berpendapat bahwa ayat-ayat Makkiyah bersifat universal dan berlaku sepanjang masa, sementara ayat-ayat Madaniyah bersifat khusus pada orang tertentu atau kasus tertentu dan hanya berlaku pada periode tertentu saja. Pendapat Mahmoud Muhammad Taha ini dikecam oleh orang-orang Sudan yang kemudian menyebabkan beliau pada akhirnya dihukum mati oleh pemerintahan Sudan. Namun, di kemudian hari, pemikiran beliau didukung oleh muridnya yang bernama Abdullah Ahmed An-Naim. 

Sebenarnya kalau saya perhatikan, tidak ada yang aneh dengan pendapat Mahmoud Mohammed Taha ini. Bahkan, saya melihat bahwa memang banyak ayat-ayat Madinah yang memang hanya merujuk kepada satu peristiwa tertentu atau hanya merujuk kepada satu orang tertentu atau hanya merujuk kepada sekelompok orang tertentu, namun karena Al Quran menggunakan majas atau Gaya Bahasa Totem Pro Parte, maka kemudian sebagian muslim menganggap ayat tsb berlaku universal sepanjang masa. Padahal tidak. Sekali lagi, itu hanya karena Al Quran menggunakan majas totem pro parte tersebut. 

Misalkan,  frase orang-orang kafir dari Ahli Kitab dalam surat Al Bayyinah sering salah diartikan oleh sebagian muslim menjadi seluruh Ahli Kitab adalah orang kafir. Padahal itu jauh dari kebenaran. Ibnu Abbas berpendapat bahwa Ahli Kitab tsb hanya merujuk kepada orang-orang Yahudi yang ada di Madinah pada saat itu. Itu pun bukan berarti bahwa semua orang Yahudi Madinah adalah kafir, melainkan di antara orang-orang Yahudi Madinah ada yang kafir kepada Nabi Muhammad. 

Namun contoh yang paling meyakinkan adalah surat At Taubah ayat 30. "Orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair (atau Ezra) adalah anak Allah". Al Quran menarasikannya sebagai orang-orang Yahudi dalam bentuk jamak (plural), yang seolah-olah menyiratkan bahwa semua orang Yahudi menyatakan bahwa Ezra adalah anak Allah. Padahal sebenarnya tidak demikian, karena lagi-lagi Al Quran telah menggunakan gaya bahasa totem pro parte. Dalam tafsir Thabari misalnya terdapat dua pendapat mengenai ayat Bara'ah 30 ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa yang mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah hanya satu orang Yahudi Madinah saja yang bernama Finhash. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa yang menyatakan bahwa Uzair adalah anak Allah adalah sekelompok orang dari Ahli Kitab. Ingat ya, bahwa sekelompok itu bukan berarti seluruhnya. Either way, pada kenyataannya ayat At Taubah 30 tidak relevan di zaman sekarang, karena pada saat ini, sepanjang yang saya tahu, tidak ada satu pun orang Yahudi yang secara spesifik menyatakan bahwa Ezra adalah anak Allah. 

Atau contoh lain adalah ayat Al Baqarah 111. "Mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau orang Nasrani'." Artinya, orang Yahudi berkata bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi, sedangkan orang Nasrani berkata bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang Nasrani. Nah, sangat mungkin bahwa ayat ini memang benar di masa lalu, namun ayat ini kurang relevan di masa sekarang, khususnya yang terkait dengan orang-orang Yahudi. Karena, dari berbagai tulisan rabbi-rabbi Yahudi yang sudah saya baca, tidak ada kesan bahwa mereka menganggap bahwa surga, atau mereka menyebutnya Olam Haba, the World to Come, hanya untuk orang-orang Yahudi saja; melainkan terbuka untuk bangsa lain yang menegakkan Tujuh Hukum Nabi Nuh. Oleh karena itu maka orang-orang Yahudi tidak pernah berusaha untuk meng-Yahudi-kan orang-orang di luar Israel. Bahkan sebaliknya, jika ada orang-orang non-Yahudi yang ingin convert ke agama Yahudi, mereka justru men-discourage-nya. Buat apa convert ke agama Yahudi? Kalau kamu ingin masuk sorga dan kamu bukan orang Israel, maka yang perlu kamu lakukan hanyalah menegakkan the Seven Laws of Noah saja, dan itu sudah cukup untuk membuatmu mendapatkan bagian di dunia yang akan datang. 

Jadi, saya melihat bahwa di masa kini, pikiran orang-orang Yahudi justru lebih terbuka (open minded) dan toleran dibandingkan pemikiran sebagian orang-orang muslim ahli sunnah yang sangat sempit dan tertutup. Di masa kini, ayat QS 2:111 sebenarnya justru lebih relevan dikaitkan dengan orang-orang Kristen (saya sengaja menyebutnya Kristen, bukan Nasrani) dan orang-orang Islam Ahli Sunnah. Di mana orang-orang Kristen masa kini menganggap bahwa surga itu khusus untuk orang-orang Kristen, sedangkan orang-orang Islam Ahli Sunnah menganggap bahwa surga itu khusus untuk orang-orang Sunni. Boleh jadi di masa kini, ayat tsb lebih pas dinarasikan sebagai "Mereka berkata, tidak akan masuk sorga kecuali orang Katolik atau orang Ahli Sunnah"

Konon katanya, 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad pernah mengatakan bahwa umat beliau akan mengikuti kesalahan dua umat sebelumnya, sehingga apabila kedua umat terdahulu masuk ke dalam lubang biawak pun maka umat Nabi Muhammad tetap akan mengikutinya. Ketika ditanyakan siapa kedua umat terdahulu tersebut, maka jawabannya adalah umat Yahudi dan Nasrani. 

Saya sendiri melihat bahwa kebanyakan muslim sekarang (Ahli Sunnah wal Jama'ah) memang benar-benar telah mengulangi kesalahan yang dibuat oleh Yahudi dan Nasrani yang dinarasikan di dalam Al Quran. Salah satu contohnya ya seperti yang saya tuliskan di dua paragraf sebelum ini. 

Berikut kesalahan Yahudi dan Nasrani yang sudah diulang oleh mayoritas muslim Ahli Sunnah:

  1. Menganggap bahwa surga hanya untuk kelompok mereka sendiri saja (QS 2:111), bukan untuk kelompok lain (ingat hadits 73 golongan) 
  2. Menganggap bahwa hanya kelompok mereka saja yang berpegang kebenaran dan menuduh kelompok lain tidak berpegang pada kebenaran, padahal kelompok lain yang mereka tuduh itu juga membaca dan percaya kepada Kitab Suci yang sama dengan Kitab Suci yang mereka baca, sebagaimana disitir dalam QS 2:113. Ini seperti Sunni yang menuduh bahwa Syi'ah itu sesat dan mereka mengklaim bahwa Syi'ah itu bukan Islam, padahal mereka tahu persis bahwa orang-orang Syi'ah itu beriman kepada Allah, beriman kepada Nabi Muhammad, dan juga beriman kepada Al Quran. 
  3. Mereka menjadikan guru agama mereka sebagai Tuhan selain Allah (QS 9:31). Apa saja yang dikatakan oleh ustadz atau ulama mereka akan langsung dianggap sebagai kebenaran, tanpa di-cross check dulu kepada Kitab Suci. 
  4. Mereka memecah agama menjadi beberapa golongan, dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka (QS 21:92-93, 23:52-53, 6:159 dan 30:32). Ini mirip dengan poin 1 dan poin 2. Islam Ahli Sunnah merasa bangga dengan golongannya sendiri. Salafi sangat fanatik dengan ulama-ulama mereka sendiri. Syi'ah bangga dengan golongannya sendiri. Quranist bangga dengan pemikirannya sendiri. Katolik bangga dengan doktrin EENS mereka (Extra Ecclesiam nulla salus). Dst. Padahal yang benar adalah bahwa semua kelompok ini, para pengikut Nabi Muhammad, dan juga para pengikut Nabi Yesus, pada hakikatnya masih menganut agama yang sama sepanjang mereka hanya menyembah Allah yang Maha Esa dan berserah diri kepada-Nya. Kecuali kalau mereka ingin membuat agama mereka sendiri dengan mengkotak-kotakkan umat Islam ke dalam berbagai agama, ada agama Ahli Sunnah, agama Salafi, agama Syi'ah, agama Quranist, agama Jabariyah, agama Katolik, dan lain sebagainya. 
  5. Mereka hanya mau beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka, namun mereka tidak mau beriman kepada apa yang diturunkan (sebelumnya atau) sesudahnya (QS 2:91). Orang-orang Yahudi Madinah hanya mau beriman kepada Tanakh, namun tidak mau beriman kepada Injil dan Quran. Orang-orang Nasrani hanya mau beriman kepada Taurat dan Injil, namun tidak mau beriman kepada Quran. Dan sekarang orang-orang Islam Ahli Sunnah hanya mau beriman kepada Al Quran saja, namun mereka tidak mau beriman kepada Taurat (dan Injil) yang beredar di masa kini dengan asumsi mereka bahwa Taurat (dan Injil) yang beredar pada masa kini adalah palsu (which arguably bahwa Kitab Taurat yang beredar pada masa kini sebenarnya hampir sama dengan Kitab Taurat yang beredar pada masa Yesus +/- tahun pertama masehi). 
  6. Orang-orang Islam Ahli Sunnah tidak akan ridha kepada orang-orang Yahudi sebelum orang-orang Yahudi tersebut convert ke agama Islam (cf QS 2:120) 

Kalau sudah begini, kalau orang-orang Islam Ahli Sunnah sudah mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani di masa lampau, lalu siapakah sebenarnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu, jika seandainya orang-orang Yahudi di masa kini justru sudah bertobat dari kesalahan yang mereka lakukan di masa lampau? Jangan-jangan, justru Muslim Ahli Sunnah, Salafi, Syi'ah, Quranist, Kristen, Katolik dan kelompok-kelompok yang gemar menghakimi sesama manusia dan gemar mengkotak-kotakkan agama lain dan kelompok lain, judgmental dan stereotype inilah yang dimaksud sebagai orang-orang Yahudi dan Nasrani di masa kini; sedangkan orang-orang Yahudi yang asli di masa kini yang berpikiran terbuka dan toleran, justru merupakan ummatan wahidah (QS 21:92 dan 23:52) yang dimaksud di dalam Quran, wa Allahu a'lam

Semoga kita diberikan hidayah untuk dapat memahami Firman-Firman Allah, dan semoga kita tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh umat terdahulu. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Agama Apa, akan tetapi Kitab Apa?

Sekitar empat abad yang lalu, Balaise Pascal mengutarakan pemikirannya tentang Atheist versus orang Theist, apakah Tuhan itu ada atau tidak? Pemikirannya ini sekarang dikenal sebagai Pascal's Wager atau Pertaruhan Pascal. Dalam gagasannya itu, Pascal menyatakan bahwa lebih aman menjadi orang yang percaya kepada Tuhan daripada menjadi orang Atheist. Kenapa? Karena kalau orang percaya kepada Tuhan dan ternyata Tuhan itu tidak ada, maka orang beragama tidak terlalu rugi, paling-paling ia hanya kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang di dunia. Namun, jika seseorang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada namun ternyata Tuhan itu ada, maka celakalah si orang Atheist tersebut.  Namun, di masa kini Pascal's Wager tersebut banyak ditentang, terutama oleh orang Atheist. Salah satu alasannya adalah karena Pascal mengidentikkan orang beragama sebagai orang Kristen (dan/atau Katolik). Padahal, bisa jadi bahwa Tuhan itu ada, namun ternyata Kristen bukanlah agama yang benar. Bisa jadi agama ...

Logam Mulia untuk Persiapan TEOTWAWKI

Sejak beberapa tahun belakangan ini, saya rajin mengumpulkan logam mulia, terutama emas dan perak. Alasan utama saya, karena saya percaya bahwa suatu saat nanti akan tiba masanya dimana uang kertas yang kita kenal sekarang ini (atau  fiat money ), tidak akan laku lagi karena jamannya sudah berubah. Bukan berubah maju, melainkan berubah mundur. Di kalangan preppers keadaan itu dikenal dengan istilah The End of the World as We Know It atau biasa disingkat TEOTWAWKI. Pada masa tersebut, manusia akan kembali ke zaman dahulu. Tidak ada lagi teknologi modern yang bisa dinikmati oleh umat manusia karena pada masa itu teknologi modern sudah musnah atau hancur. Keadaan seperti inilah yang juga sering digambarkan oleh beberapa ulama Indonesia seperti ustadz akhir zaman Zulkifli Ali. Saya pribadi termasuk orang yang percaya bahwa suatu saat nanti, cepat atau lambat, umat manusia akan kembali ke peradaban zaman dulu karena teknologi modern sudah musnah. Alasannya karena kalau kita memba...

An Nisa 136: I think I finally understood

Dalam postingan saya terdahulu, saya sudah pernah menyampaikan kegalauan saya selama bertahun-tahun mengenai ayat Surat An Nisa 136, yakni apakah yang dimaksud dengan beriman kepada kitab yang diturunkan sebelum Al Quran. Dan ketika itu jawaban saya cukup bervariasi, mulai dari Alkitab ( The Bible ), Taurat, Septuagint ( LXX ), Covenant Code dalam Kitab Exodus, Sepuluh Perintah,  Shapira Manuscript , Kitab Injil, sampai dengan Kitab Jubilee . Namun, alhamdulillah, sekarang saya merasa memiliki keyakinan yang memadai, bahwa yang dimaksud dengan kitab sebelum Quran dalam QS 4:136 adalah bahagian dari Kitab Taurat, khususnya kitab pertama dalam Alkitab, yakni Kitab Kejadian atau Genesis atau Bereshit/Bereishis . Bahkan, kemungkinan yang dimaksud bukanlah seluruh Kitab Kejadian yang terdiri dari 50 pasal atau 50 chapters , melainkan 11 pasal pertama dari Kitab Kejadian, atau bahkan hanya sampai dengan Kejadian 5:2 atau empat pasal pertama dari Kitab Kejadian. Mengapa saya sampai pa...