Baru-baru ini saya membaca buku Confrontation and Engagement yang dikompilasi oleh Rabbi Ben Abrahamson. Pada halaman 154 buku tersebut, terdapat komentar mengenai ayat Deuteronomy 33:2 yang bunyinya sbb: "TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus... (Ulangan 33:2) Nah, mengomentari ayat tersebut, penulisnya menulis, "TUHAN datang dari Sinai" , mereka menceritakan kepada kami, ini (maksudnya) bahasa Ibrani. "Dia muncul dari Seir" ini (maksudnya) bahasa Latin. "Dia bersinar dari pegunungan Paran" maksudnya bahasa Arab . If the text of mosaic blessing mentions Sinai as Seir and Paran, these two names are enough for commentators to refer to the whole of humanity, because they represent to them the two great powers who disputed their time of domination in their country, East and West, Arabs and Romans . Nah, yang menarik bagi say...
Beberapa dekade lalu di negeri Sudan, terdapat seorang tokoh Islam bernama Mahmoud Muhammad Taha yang mengeluarkan pendapat yang kontroversial. Mayoritas muslim sudah tahu bahwa Al Quran biasanya dibagi menjadi ayat Makkiyah dan Madaniyah. Dan jika ada perbedaan antara ayat Makkiyah dengan Madaniyah, maka ayat yang terakhirlah yang berlaku, karena prinsip muslim pada umumnya ayat yang turun belakangan menasakh ayat yang turun lebih awal. Nah, berbeda dengan pendapat kaum Muslim pada umumnya, Mahmoud Muhammad Taha ini justru berpendapat bahwa ayat-ayat Makkiyah bersifat universal dan berlaku sepanjang masa, sementara ayat-ayat Madaniyah bersifat khusus pada orang tertentu atau kasus tertentu dan hanya berlaku pada periode tertentu saja. Pendapat Mahmoud Muhammad Taha ini dikecam oleh orang-orang Sudan yang kemudian menyebabkan beliau pada akhirnya dihukum mati oleh pemerintahan Sudan. Namun, di kemudian hari, pemikiran beliau didukung oleh muridnya yang bernama Abdullah Ahme...