Baru-baru ini saya membaca buku Confrontation and Engagement yang dikompilasi oleh Rabbi Ben Abrahamson.
Pada halaman 154 buku tersebut, terdapat komentar mengenai ayat Deuteronomy 33:2 yang bunyinya sbb:
"TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus... (Ulangan 33:2)
Nah, mengomentari ayat tersebut, penulisnya menulis, "TUHAN datang dari Sinai", mereka menceritakan kepada kami, ini (maksudnya) bahasa Ibrani. "Dia muncul dari Seir" ini (maksudnya) bahasa Latin. "Dia bersinar dari pegunungan Paran" maksudnya bahasa Arab.
If the text of mosaic blessing mentions Sinai as Seir and Paran, these two names are enough for commentators to refer to the whole of humanity, because they represent to them the two great powers who disputed their time of domination in their country, East and West, Arabs and Romans.
Nah, yang menarik bagi saya di sini adalah bahasa Latin. Kenapa bahasa Latin, bukan bahasa Yunani, misalnya, yang jelas-jelas digunakan untuk mencatat Injil dan surat-surat di Perjanjian Baru. Inilah pertanyaan yang muncul di benak saya.
Nah, kemudian pikiran saya melayang kepada satu dokumen berbahasa Latin yang berjudul Doctrina (XII) Apostolorum. Jadi, dokumen ini serupa dengan Injil Didache yang berbahasa Yunani, namun jauh lebih ringkas, kalau tidak mau dibilang lebih otentik. Saya pribadi memang menduga (sejak beberapa tahun yang lalu sebenarnya ketika saya belum membaca buku Confrontation and Engagement ini) bahwa Doctrina Apostolorum versi Latin ini memang lebih otentik ketimbang versi Yunani counterpart-nya. Kenapa saya menduga demikian? Karena pada Doctrina Apostolorum tidak terdapat doktrin mengenai Kasihilah Musuhmu. Terus terang, ajaran Kasihilah Musuhmu sangat mengganggu pikiran saya sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Kenapa? Logika saya sederhana, bukankah musuh utama manusia adalah iblis atau setan? Lalu masak iya kita disuruh untuk mengasihi iblis? Kayak nggak masuk akal di saya.
Dan setelah saya pikir-pikir, kalau memang benar bahwa frase "He arose over them from Seir" memang benar mengacu kepada bahasa Latin, maka satu-satunya dugaan saya adalah bahwa ia mengacu kepada Doctrina Apostolorum yang ditulis menggunakan bahasa Latin.
FYI: isi dari Doctrina Apostolorum adalah adanya Dua Jalan atau the Two Ways, yang sebagian besarnya merupakan elaborasi dari Tujuh Hukum Nabi Nuh.
Wa Allahu a'lam
Komentar
Posting Komentar